Orang bijak bertanya “Awak lagi loro, kerjo kie nggolekke sopo” (badan sedang sakit, kerja untuk mencukupi siapa?) ya untuk mencukupi kebutuhan diri sendiri lah, kalau diri sendiri sudah terpenuhi, baru mencukupi kebutuhan orang disekitar kita yang paling dekat, keluarga misalnya.
Namun ada kalanya orang lain tak mengerti (atau mungkin tidak mau mengerti ya) bahwa sebenarnya kita itu “kewalahan” mengatasi segala rutinitas dalam hidup kita. Mereka hanya tahu bahwa kita bekerja dalam keadaan yang enak, menyenangkan, dengan uang yang “menurut perhitungan mereka” lebih dari cukup.
Apalagi bila hal itu terjadi dalam sebuah lingkungan kecil (keluarga, red) dimana berpenduduk “lebih”, sementara “sumber penghasilan” hanya satu orang saja. Yang minta itu lho enak, yang dimintai yang enak gak enak. Terlepas dari itu semua, kalau “sumber keuangan” lingkungan kecil itu menjalaninya dengan hati yang ikhlas, Insya Allah semua akan terasa ringan.
Tetapi bukankah setiap orang memiliki irama hidup yang berbeda, termasuk “sumber keuangan” keluarga. Dimana dia juga membutuhkan “penyegaran”, dimana sesekali tubuh mereka memberikan peringatan kalau tubuh itu sudah over load. Kalau yang sesekali itu mendapatkan permakluman dari yang lain hmmm.....
Itulah sebabnya aku selalu ingat dengan nasehat orang bijak (sapa ya orang bijaknya?) kalau orang itu sawang sinawang dimana rumput tetangga lebih hijau dan subur daripada rumput dihalaman rumah kita sendiri. Kok jauh amat pembahasannya ya... (set mode on garuk-garuk kepala). Kalau aku sich... kerja buat diriku sendiri, (niatnya sich) tapi begitu liat charlie angels ku di Salatiga sana, rasanya pengen aku borong semua buat mereka hahahahahaha. Lup U my sister’s.
Baca Selengkapnya...
Senin, 08 Juni 2009
Orang Bijak Bertanya
Sabtu, 30 Mei 2009
Setetes Harap
Ya Allah...
Sampaikan padanya bahwa aku tak pernah bermaksud untuk melukai hatinya,
aku tak bermaksud untuk membuatnya ingat pada sesuatu yang membuatnya ingat
pada sesuatu yang membuat dia sedih
Sampaikan padanya bahwa aku senang mendengar tawanya yang kadang hadir tanpa alasan
Ya Allah...
Sampaikan padanya bahwa jiwa yang menulis ini,
sebenarnya tak mampu membohongi dirinya sendiri
Bahkan kadang aku terlena dengan anganku tentangnya
Ya Allah....
Sampaikan padanya bahwa dalam lenaku,
aku merasa takut kepadaMu, takut tak mampu menjaga rasa sayang
yang Engkau karuniakan padaku
Ya Rahman...
Aku ingin mencintai dan merindukannya karenaMu dan atas ridhoMu
Ya Qudus...
Sampaikan padanya bahwa jiwa yang menulis ini mendambanya untuk hadir,
tak hanya dalam maya, tapi juga nyata
Hadirkan dia Ya Rabbul 'Izati... sebagai suami
Baca Selengkapnya...
Sabtu, 23 Mei 2009
J E D A
Lihatlah!
Malam yang sekarang tak mampu lagi memekatkan gelapnya. Bulan tak sanggup menggenapkan purnamanya. Bunga tanpa daya merebakkan wanginya. Embun, riuh kicau burung kutilang, teriakan ayam jantan, tak bisa menyempurnakan pagi-pagi kemarin.
Begitupun aku, lolos penaku dari genggaman untuk mencatatkan beberapa bait saja, tentang rasaku. Letih jemariku meneruskan isi hati. Jenuh pada hati yang menunggu jiwa-jiwa yang sejatinya telah terpaut sejak dulu. Sejak kita, aku dan kamu, mulai mengerti dan memahami di balik susunan kata-kata kita, ada hati yang bicara.
Barangkali kita memang terlalu tinggi untuk rasa yang seperti itu. Hingga untuk mengakui indahnya rembulan pun kita tak mau. Sampai kapan kita harus menepis rasa ini? Aku tak tahu pasti. Pun sebenarnya kita tahu, ada cinta (bahkan rasa itu lebih dari yang dinamakan cinta) yang sulit diterjemahkan, disingkap dengan kata-kata karena tak sanggup menampung kandungan isinya.
Aku ingin menatap wajahmu sekali saja dalam hidupku. Meski nantinya aku akan memungkiri kata-kata itu. Karena seringnya yang kita minta sekali, sekejap, sedetik, tapi ternyata itu tidak membuat dahaga kita terobati.
Baca Selengkapnya...
Rabu, 06 Mei 2009
Aku lupa pada matahari
Yang menaungiku dengan hangatnya
Aku lupa pada malam
Yang melindungiku dengan gelapnya
Yang aku ingat
Adalah sinar di teduhMu
Yang menerangi setiap tapak jemari kakiku
Adalah janji yang meyakinkanku
Bahwa KAU takkan lengah menjagaku
Aku rasa, inilah cinta
Yang selalu membuatku menitikkan air mata
Ketika sinar dan janji itu tercipta dalam ingatan
Inilah cinta, yang menggesek lirih nurani
Ketika jalan ini sampai pada kepasrahan
Baca Selengkapnya...
Minggu, 03 Mei 2009
Preman Kok Takut ma aku, OlaLa!
Flash back 247 hari yang lalu…
Terlepas dari segala rasa yang “gado-gado” di hatiku kemarin (sebenarnya sekarang juga masih). Ada satu kejadian yang setidaknya itu bisa membuatku tercenung sendiri, bahwa ternyata hari minggu tanggal 24 Agustus 2008 kemarin aku telah tersenyum “kembali”. Meski awalnya aku sempat husnudzon dengan yang bersangkutan. Memang niat dari awal aku hanya ingin membebaskan rasa sumpek, penat, gerah, sesek apalagi coba? Pokoknya rasa yang hiiiih... begitulah kira – kira.
Kuawali hari itu dengan mandi, kemudian menjemur cucian yang sengaja kurendam dengan pewangi semalaman. Sesuai rencana, pukul 06.00 WIB aku berangkat dari rumah. Tanpa sarapan (padahal aku paling gak bisa kalau gak sarapan) tapi karena “keadaan” dirumah yang hmmmm.... begitulah kira – kira. Tanpa pamit Bapak (karena beliau masih tidur), cukup mencium tangan ibu tanpa keluar kata – kata lain kecuali “bu..” lalu meminta tangannya.
Bisa dikatakan lancar perjalanan waktu itu, kecuali waktu aku naik jalur 4, kernetnya nyebelin. Tapi suaranya... ehem... tunggu dulu, suara itu tidak asing lagi ditelingaku. Tapi... huh! Tampangnya jutek, penampilannya membuat poinnya turun dimataku, sudah begitu cara dia melihatku dengan tatapan yang sinis. Kutukar lembar lima ribuan yang sobek sambil berdoa “Ya Allah... mudah – mudahan dia bukan orang yang kumaksud”.
“Taman Budaya... aku datang” kalau jalanan sepi, dan aku masih di kuncir dua sambil berkalung gembes sekiranya aku bakal berlari – lari menuju Taman Budaya, menubruk tumpukan buku – buku yang memang rasa – rasanya aku cinta mati. Sedikit kurang PD maka aku pun menemukan tempat teraman untuk menghilangkan kusam di wajah, apalagi kalau bukan toilet umum. Dengan Rp. 1.000,- aku sudah kembali rapi dan wangi (xixixixi... narsis).
Saudara – saudara, sepanjang Taman Budaya, Pasar Beringharjo, Jl. A. Yani, sampai pegal kepalaku tolah – toleh, aku tak menemukan counter HP, atau setidaknya spanduk yang berisikan promo kartu seluler. Ternyata kalau jalan – jalan dengan tujuan, itu malah membuat kakiku pegal – pegal, sekedar untuk mengisi perut, sebenarnya aku pengen beli sarapan uhmm... apa ya namanya, nasi liwet? Nasi urap? Tak taulah, yang jelas kelihatannya enak sekali. Cuma karena rasa maluku masih saja nempel, aku urung melakukannya. Sebagai gantinya aku membeli sekotak susu madu dan slai olai. Tidak mengenyangkan sich, tapi cukup membuat perutku eneg, karena walau bagaimanapun susu coklat itu jauh lebih nikmat. Alhamdulilah... akhirnya kutemukan juga sebuah warung rokok kecil yang menjual pulsa, meski harganya lebih mahal tapi kalau kepepet tetap saja jadi murah.
“SMS dikirim....” dan akhirnya dia sepakat untuk menyusulku ke sepanjang Jl. A. Yani tapi karena terlalu lama aku pun berkeliling menikmati pemandangan Pasar Beringharjo yang bikin aku “ngiler” dan merutuk dalam hati “coba aku punya uang banyak”. Karena batik – batiknya, baik yang berupa kain sampai yang sudah bisa dipakai langsung benar – benar jadi magnet buatku. Ups! Aku keasikan (gak ada uang aja keasikan, apalagi kalau ada ya). Hmmm... aku cari lagi tempat yang sekiranya pas buat bertemu, mudah dilihat dan banyak orang. Lalu kuputuskan untuk kembali lagi ke area Taman Budaya. 5 menit melangkah, HP ku meraung – raung minta diangkat.
***
Deg! Yang ingin kulakukan waktu itu hanya menangis, aku tak peduli saat itu posisiku berada di pasar, aku tak peduli kalau orang – orang melihatku dengan heran, iba atau apapun. Tapi sayangnya aku benar – benar sudah tidak bisa menangis waktu itu, hanya saja sakit sekali hatiku. Aku, seorang Nina baru kali ini janji ketemu dengan seseorang kemudian ditinggal pergi dengan alasan “diminta pulang oleh kakak” sebelum kami bertemu. Pada waktu itu posisinya juga yang bersangkutan sudah melihatku, sementara aku belum melihatnya sama sekali. Astagirullahaladzim.... hanya istighfar yang bisa kusebut. Karena aku seperti tersadar, betapa “rendah”nya aku menyesali sesuatu yang memang tidak pantas untuk disesali. Karena janji bertemu dengan seseorang gagal. Sementara niat awalku adalah untuk melepaskan penat di pikiranku.
Akhirnya aku putuskan untuk balik lagi ke kota tempatku tinggal (kelihatan sekali tidak sich, kalau niatku sepertinya hanya untuk menemui yang bersangkutan itu). Dengan sedikit “sakit hati” aku sms dia berisi bahwa aku meminta maaf karena telah menyita waktu dan “mengecewakannya”. Berbagai macam prasangka melingkar dalam kepalaku. Mungkin dia kabur karena melihatku dengan rupa yang tidak sesuai dengan bayangannya, aku terlihat terlalu alim barangkali (wekz! Masa’ see), terlalu kurus, terlalu hitam, terlalu... ah yang jelas dia lebih terlalu dari aku. Dia benar – benar pecundang (kasar ya, habis aku jengkel sekali).
Malamnya ketika aku sedang asik membaca koran, kubaca sms darinya. “Nin maaf, sebenarnya aku tadi aku malu ketemu sama kamu, krn mataku masih merah, semalam aku mabuk berat” “kalau kamu tidak berpakaian seperti itu mungkin aku langsung nyamperin kmu, krn semua kenalan cewekku berpakaian sexy n kurang bahan, tidak spt u”. wehehehhehe.... spontan aku cekikikan sendiri membaca sms darinya, rasa jengkel yang dari tadi pagi sejak aku tidak ditemuinya tiba – tiba menguap entah kemana. Ada preman kok malu ketemu aku, kok takut ketemu. Seharusnya hal ini berlaku kebalikannya. Aku yang takut. Aneh.
Hmmm... akhirnya kukatakan padanya bahwa apapun itu aku tak mau kalau dia malu bertemu denganku. Toh aku juga biasa seperti teman - temannya, yang membedakan mungkin caraku berpakaian. Kukatakan juga supaya dia tidak menilai diriku dari penampilanku. Karena aku masih berproses. Dia tak perlu memaksakan diri untuk berubah menyesuaikan diriku, begitu pula aku tak ingin berubah untuk menjadi temannya. Karena memang kita harus menjadi apa adanya diri kita. Selama niatnya lurus, untuk berteman. Bukankah semua orang didunia ini guru buat kita?
Baca Selengkapnya...
Kamis, 30 April 2009
My Daughter

Nin nemu gambar ini (nemu?) di kompinya mas tukang poto (Mas Nardlenk eh Nardi hehehhe). Niatnya sich... emang pengen cari foto-foto lucu gitu. gak taunya nemu mantan anak-anakku yang telah lama menghilang. Lihat gambar yang kupasang, aku jadi kangeen sekali dengan mereka. Tapi sayang, mereka hilang sewaktu aku tinggal kerja dulu. Padahal malamnya Qoirina dan Kirana tidur di pangkuanku.
Dari mereka juga aku jadi ingat dengan teman-teman yang jadi "korban" keusilanku. Dengan antusias mereka menyumbang nama padaku, seperti Mas Wi yang ngasih nama Lana (panjangnya sich Lana Fauzika), trus dia juga ngasih nama cowok cuma aku pengen mereka jadi kucing cewek (idiiih.... maksa), jadi nama Ziad Zain tidak masuk daftar.
Alhasil mereka mendapat nama cantik Qoirina (dari Mas Rudin), Kirana (nama ini mengingatkanku pada Dd' Kame), Praya (artinya apa ya? aku lupa, tapi ini dari aku sendiri sich), Kintan (Hehehehe... pasti dah pada tau), Lana (pemberian dari Mas Wi nee...), dan yang terakhir Quinta (ini dari Inoy Kinoy, yang katanya kalau kembar banyak kasih nama aja itu).
Gemes gak sich liat mereka, Kalau aku sich iya, apalagi kalau mereka masih baby, kaya' gambar di sebelah ini. Mata beningnya, wajahnya yang polos, yang kaya'nya belum tau apa-apa, yang masih suka penasaran dengan berbagai benda (apalagi benang), yang suka menarik-narik rokku, yang hobi berlari berebut mendekat padaku kalau aku pulang kerja, yang seneng aku usap2 kepalanya sampai mereka terkantuk-kantuk. Kaya' baby beneran. Jadi kangen sama mereka. Mudah-mudahan... mereka kalau masih hidup jadi kucing yang lucu dan gak disia-sia sama pemiliknya.
Kitty so cute...
Baca Selengkapnya...
Kamis, 23 April 2009
Coretan Pagi Hari
Meski sampai sekarang bila aku membaca kembali tulisan-tulisannya, selalu saja ada rasa yang tak bisa aku ungkapkan (huuu, sok nyastra!). Lha piye? Mo cari kata lain juga gak ada, adanya stock lama (tak bisa aku ungkapkan). Kalau diterjemahkan dengan kata yang tidak tepat “hatiku meloncat” dibuatnya (wew!). Meloncat dalam artian bersemangat, jadi pengen ikut-ikutan nulis. Menciptakan pemahaman dan perenungan yang gak mutu. Setidaknya buat diriku sendiri kan lumayan (mengasah otak gitu maksudnya), pikiranku juga jadi gak cuma itu-itu saja, tetapi berkembang karena memperhatikan hal-hal kecil yang (nggak penting) tapi ternyata luar biasa untuk direnungkan. (ngomong apa see? Gak mudeng aku!).
So… kesimpulannya, I enjoy my feeling to him. Wekz! Bahasa Indonesianya tuch, aku menikmati apa yang selama ini aku rasakan untuknya. Meski rasa ini “ngambang”, gak jelas. Yang menjadi pertanyaan (ujian kali pake pertanyaan) adalah, apakah aku masih bisa menikmati rasa itu dan merasa nyaman ketika aku benar-benar berhadapan dengannya? (emangnya kamu siapa?) GR!
Iya ya… aku GR ya.
Babahin! Selama mimpi itu hanya mimpi….
Baca Selengkapnya...
Senin, 20 April 2009
Gerimis di Pagi Hari
Gerimis bukan menangis. Hanya mencoba menyentuh hijaunya rumput. Mengakrabkan diri dengan embun, salah satu cikal bakalnya air hujan. Menikmati rasa tergelincir dari kuncup - kuncup mawar. Dan membulat di ujung - ujung bunga desember. Gerimis bukan kesedihan. Melainkan kedamaian. Dia tak menghentikan kicauan burung atau kokok ayam. Gerimis adalah senyum dan tawa dari bocah - bocah desa yang berebut payung dengan saudaranya. Dari bapak - bapaknya yang duduk santai, memandang keluar sambil minum kopi. Gerimis berarti bagi bayi yang di peluk hangat oleh ibu. Gerimis adalah nyanyian alam. Satu dalam seribu nyanyian alam. Hanya mencoba membantu matahari untuk beristirahat sejenak.
Postingan ini adalah postingan lama dari blog-blog Nin terdahulu (emang punya berapa blog?). Gak tau, seneng aja dengan postingan yang satu ini, meski saat aku mempostingnya untuk kesekian kali pagi ini bukanlah pagi yang gerimis.
Baca Selengkapnya...
Minggu, 19 April 2009
Apa?
Jarang aku merasa menang. Seringnya aku merasa kalah. Kalah dengan keadaan, sampai akhirnya aku hanya menerima apa yang aku terima sekarang. Aku jalani (rasanya) tanpa ada usaha apapun untuk keluar dari keadaan seperti ini. Barangkali memang benar.
Rasanya terlalu istimewa bila sesuatu yang aku alami ini dinamakan ujian. Sementara imanku masih lemah, ilmuku masih terbatas dan amalku masih sedikit. Tak pantas aku menerima ujian-Mu Ya Rabb...
Sesungguhnya inilah caraMu untuk mendidikku, melatihku menjadi pribadi yang teguh hati dan mandiri. Wallahualam...
Baca Selengkapnya...
Minggu, 12 April 2009
???
Baca Selengkapnya...